Sabtu, 26 September 2015

Sejarah Peringatan Maulid Nabi Saw Dan Hukumnya

Para pembaca blog Hikmah Kehidupan  yang terhormat pada kesempatan ini kami ingin menulis artikel tentang Sejarah Peringatan Maulid Nabi Saw Dan Hukumnya sebagai berikut :



Ada berbagai macam versi mengenai waktu awal mula diadakannya peringatan atau perayaan Maulid Nabi saw.
Assyeikh Jalaluddin As-Suyuthi (1445 - 1505M atau 849 - 911 H) ,menerangkan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan maulid Nabi adalah Assyeikh Malik Mudhaffar Abu Sa’id Kukburi (1153 - 1232 M atau 549 - 630 H).
Sebagian pendapat mengatakan bahwa Shalahuddin Al Ayyubi (1138 - 1193 M), yang pertama kali melakukan peringatan Maulid Nabi secara resmi. Sementara versi lain menyatakan bahwa perayaan maulid Nabi ini dimulai pada masa dinasti Daulah Fathimiyah di Mesir pada akhir abad keempat Hijriyah atau abad keduabelas masehi.
Kegiatan perayaan (ihtifal) maulid Nabi ini kemudian menyebar ke berbagai negara Islam termasuk Indonesia.

 HUKUM MAULID NABI MENURUT ULAMA AHLUS-SUNNAH wal JAMA'AH

Mayoritas ulama membolehkan peringatan atau perayaan Maulid Nabi Muhammad selagi tidak ada perbuatan yang melanggar syariat saat peringatan tersebut. Jalaluddin As Suyuthi berpendapat bahwa sunnah itu dapat terjadi dengan qiyas (analogi) tidak harus berdasarkan adanya dalil Quran dan hadits.
Keharuman Majelis Maulid Nabi Saw ,Saya nukilkan perkataan Al-Imam Ibnu Al Jawzira,
mengenai keistimewaan majelis yang terdapat pembacaan sholawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad saw.
Imam Ibnul Jawzi adalah seorang ulama besar, muffasir dan muhaddits yang bermazhab Hanbali. Beliau yang nama penuhnya al-Imam al-’Allaamah al-Haafiz ‘Abdur Rahman bin Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Ubaidillah al-Baghdadi al-Hanbali dilahirkan kira-kira dalam tahun 510H dan wafat pada 13 Ramadhan 597H. Beliau meninggalkan banyak karangan sehingga dikatakan melebihi 400 buah karangan.
Imam Ibnul Jawzi al-Hanbali rahimahUllah menulis dalam karya beliau “Bustaanul Waa`idhziin Wa Riyaadhus Saami`iin” pada halaman 293 sebagai berikutTelah diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:
"Tidaklah duduknya (yakni hadir) suatu kaum dalam sebuah majelis kemudian mereka berpisah atau pulang tanpa bersholawat ke atasku melainkan perpisahan mereka itu hanya bau busuk bangkai himar(keledai).
maka tidaklah mengherankan jika majlis yang di dalamnya diucapkan ucapan-ucapan sholawat ke atas Junjungan Nabi saw akan menyebabkan para hadirin yang menghadirinya mendapat bau wangi yang paling harum dan paling baik.
Dan yang sedemikian itu adalah karena Junjungan Nabi SAW adalah makhluk yang terbaik dan yang paling suci, yang mana apabila Baginda Nabi SAW bersabda dalam suatu majelis, niscaya penuhlah majelis tersebut dengan bau harum mewangi semerbak kasturi. 
Maka demikianlah juga pada majelis yang disebut di dalamnya terdapat Baginda Nabi saw yakni dengan bersholawat, mendengar hadis-hadis Baginda SAW, mendengar ajaran-ajaran Nabi SAW dan mendengar sirah atau kisah-kisah yang berkaitan dengan Nabi Muhammad saw, niscaya akan terbitlah bau harum semerbak mewangi yang menembus tujuh langit hingga ke arasy, keharumannya dicium oleh segala makhluk Allah yang ada di bumi selain daripada jin dan manusia.
Seandainya manusia dan jin dapat mencium bau harum tersebut, niscaya lupalah mereka akan segala urusan penghidupan mereka, kerana terlalu sibuk meni’mati kelazatan dan keni’matan bau harum tersebut.
Manakala, setiap malaikat dan makhluk Allah ta`ala selain jin dan manusia, yang mencium bau harum tersebut akan berdoa memohon ampunan untuk orang-orang yang hadir dalam majelis tersebut, dan akan dituliskan bagi mereka yang hadir itu pahala sebanyak bilangan makhluk Allah ta`ala yang mencium bau harum tersebut serta diangkat derajat mereka menurut bilangan makhluk-makhluk tersebut.
Maka setiap orang masing-masing akan mendapat pahala yang sedemikian tadi tanpa memperkirakan berapa jumlah mereka yang berkumpul dalam majlis tersebut, baik itu seorang ataupun seratus ribu orang, dan apa yang ada di sisi Allah dari pahala dan ganjaran adalah terlebih banyak lagi.
Maka wahai pencinta-pencinta Rasulullah SAW hendaklah kamu bersholawat ke atas Sang Kekasih niscaya Allah Tuhan yang Maha Tinggi akan memberikan kamu minuman kerohanian penghubung kasih, memakaikan kamu dengan pakaian keindahan dan kesempurnaan serta menghiasi kamu dengan kitabnya yang mulia.“
Perkataan Imam Ibnul Jawzi ini juga dinukil oleh Buya Habib Muhammad al-Maliki ra dalam karya beliau “Ma-dza fi Sya’baan” pada halaman 38 – 39. 
Maka janganlah bermalas-malas untuk menghadirkan diri kita dalam majlis di mana Junjungan Nabi Saw dipuji, disebut, disanjung, diceritakkan, dikisahkan, disholawatkan serta diutus ucapan salam kepada Junjungan kita Rasulullah saw.
Sesungguhnya setiap masa dan ketika kita mengharapkan rahmat Allah swt dan syafaat Junjungan kita Rasulullah saw.

Dan didalam Al-Qur'aan Allah swt berfirman:قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan karunia Allah SWT dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira. ( karunia dan rahmatNya itu ) adalah lebih baik dari yang mereka kumpulkan” (QS.Yunus58)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud ( karunia Allah ) dalam ayat di atas adalah terlahirnya Rasulullah SAW ke dunia ini. 
Selain itu ayat ini berisi perintah agar bergembira dengan adanya karunia Allah SWT itu. Salah satu bentuk kegembiraan itu dituangkan dalam perayaan maulid Nabi SAW. Tapi hendaklah ini dilakukan dengan dasar kecintaan kepada Rasulullah SAW, karena Allah SWT berfirman : 


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah ikutilah aku (Rasulullah saw) niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Imran 31)

FATWA Assyeikh JALALUDDIN AS SUYUTHI TENTANG PERAYAAN MAULID NABI 


Assyeikh Jalaluddin As-Suyuthi berpendapat bahwa memperingati maulid Nabi Muhammad adalah bid'ah hasanah (baik). As-Suyuthi mengatakan:


وبعــــد: فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول، ما حكمه من حيث الشرع؟ وهل هو محمود أو مذموم؟ وهل يثاب فاعله أو لا؟.


الجـــــواب:


عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف.


Arti kesimpulan: Perayaan Maulid Nabi yang berupa berkumpulnya manusia dengan membaca ayat Quran dan sejarah Nabi dan memakan hidangan makanan termasuk dari bid'ah yang baik (hasanah) yang mendapat pahala karena bertujuan mengagungkan Nabi Muhammad dan menampakkan kegembiraan terhadap kelahiran Nabi.
Alasan As-Suyuthi menganggap sunnah merayakan maulid Nabi karena hukum sunnah itu tidak harus terjadi pada era Nabi, tapi bisa karena qiyas.
Istilah bid'ah hasanah (baik) dan qabihah (buruk) yang dipakai As-Suyuthi berasal dari Imam Nawawi dalam kitab تهذيب الأسماء واللغات Tahdzibul Asma' wal Lughat. 

FATWA Assyeikh ABUL KHATTAB AL DIHYAH TENTANG PERAYAAN MAULID NABI 

Assyeikh Abul Khattab bin Dihyah pada tahun 604 H menulis kitab At Tanwir fi Maulidil Basyir an-Nadzir (التنوير في مولد البشير النذير) khusus membahas tentang bolehnya Maulid Nabi. Bin Dihyah adalah ulama ahli hadits yang bergelar Al Hafidz asal Maroko yang terkenal pada zamannya,Syed Muhammad Alwi Al Maliki Al Hasnai dalam kitabnya Hawlal Ihtifal bi Dzikral Maulid an-Nabawi 

FATWA YUSUF QARDHAWI TENTANG PERAYAAN MAULID NABI 

 Assyeikh Yusuf Qardhawi menganggap perayaan Maulid Nabi Muhammad adalah baik.            Assyeikh Qardhawi menyatakan:


فهناك لون من الاحتفال يمكن أن نقره ونعتبره نافعاً للمسلمين، ونحن نعلم أن الصحابة رضوان الله عليهم لم يكونوا يحتفلون بمولد الرسول صلى الله عليه وسلم ولا بالهجرة النبوية ولا بغزوة بدر، لماذا؟


لأن هذه الأشياء عاشوها بالفعل، وكانوا يحيون مع الرسول صلى الله عليه وسلم، كان الرسول صلى الله عليه وسلم حياً في ضمائرهم، لم يغب عن وعيهم، كان سعد بن أبي وقاص يقول: كنا نروي أبناءنا مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم كما نحفِّظهم السورة من القرآن، بأن يحكوا للأولاد ماذا حدث في غزوة بدر وفي غزوة أحد، وفي غزوة الخندق وفي غزوة خيبر، فكانوا يحكون لهم ماذا حدث في حياة النبي صلى الله عليه وسلم، فلم يكونوا إذن في حاجة إلى تذكّر هذه الأشياء.


ثم جاء عصر نسي الناس هذه الأحداث وأصبحت غائبة عن وعيهم، وغائبة عن عقولهم وضمائرهم، فاحتاج الناس إلى إحياء هذه المعاني التي ماتت والتذكير بهذه المآثر التي نُسيت، صحيح اتُخِذت بعض البدع في هذه الأشياء ولكنني أقول إننا نحتفل بأن نذكر الناس بحقائق السيرة النبوية وحقائق الرسالة المحمدية، فعندما أحتفل بمولد الرسول فأنا أحتفل بمولد الرسالة، فأنا أذكِّر الناس برسالة رسول الله وبسيرة رسول الله


وفي هذه المناسبة أذكِّر الناس بهذا الحدث العظيم وبما يُستفاد به من دروس، لأربط الناس بسيرة النبي صلى الله عليه وسلم (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا) [الأحزاب لنضحي كما ضحى الصحابة، كما ضحى علِيّ حينما وضع نفسه موضع النبي صلى الله عليه وسلم، كما ضحت أسماء وهي تصعد إلى جبل ثور، هذا الجبل الشاق كل يوم، لنخطط كما خطط النبي للهجرة، لنتوكل على الله كما توكل على الله حينما قال له أبو بكر: والله يا رسول الله لو نظر أحدهم تحت قدميه لرآنا، فقال: "يا أبا بكر ما ظنك في اثنين الله ثالثهما، لا تحزن إن الله معنا".


نحن في حاجة إلى هذه الدروس فهذا النوع من الاحتفال تذكير الناس بهذه المعاني، أعتقد أن وراءه ثمرة إيجابية هي ربط المسلمين بالإسلام وربطهم بسيرة النبي صلى الله عليه وسلم ليأخذوا منه الأسوة والقدوة، أما الأشياء التي تخرج عن هذا فليست من الاحتفال؛ ولا نقر أحدًا عليها.


Artinya: Ada salah satu jenis perayaan/peringatan yang dapat kita anggap bermanfaat bagi umat Islam. Kita tahu bahwa para Sahabat tidak merayakan Maulid Nabi Muhammad, hijrah Nabi dan Perang Badar, kenapa?


Karena kejadian-kejadian di atas mereka lakukan dalam kehiudpan nyata. Mereka hidup bersama Nabi. Dan Nabi hidup dalam hati mereka. Tidak hilang dari kesadaran mereka. Sa'ad bin Abi Waqqas berkata: Kami mengisahkan pada anak-anak kami kisah-kisah peperangan Nabi sebagaimana kami menghafal Surah dari Al-Qur'an dengan bercerita pada anak-anak apa yang terjadi dalam Perang Badar dan Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar. Mereka bercerita pada anak-anak mereka apa yang terjadi pada masa hidup Nabi sehingga mereka tidak perlu memperingati perayaan-perayaan semacam ini.

Kemudian datanglah masa di mana manusia melupakan berbagai peristiwa di atas dan hilang dari kesadaran, jiwa dan hati mereka. Maka manusia perlu untuk menghidupkan kembali pemahaman yang telah mati dan mengingat peristiwa yang sudah terlupakan. Betul, terdapat hal-hal bid'ah dalam perkara ini tapi saya berpendapat bahwa kita merayakannya untuk mengingatkan manusia atas hakikat perjalanan kenabian dan risalahnya. Saat kita memperingati Maulid Nabi maka saya memperingati kelahiran terutusnya Nabi; maka saya mengingatkan manusia atas diutusnya Rasulullah dan kisah kenabian beliau.

Kita saat ini sangat perlu untuk mempelajari (kisah Nabi) ini. Perayaan semacam ini bertujuan untuk mengingatkan manusia akan makna-makna di atas. Saya yakin bahwa di balik beberapa peringatan ini terdapat hasil yang positif yaitu mengikat umat dengan Islam dan mengikat mereka dengan sejarah Nabi untuk dimabil suri tauladan dan panutan. Adapun hal-hal yang keluar dari ini, maka itu bukanlah perayaan dan kami tidak mengakuinya.

FATWA SAYYID MUHAMMAD ALWI AL-MALIKI TENTANG PERAYAAN MAULID NABI 

Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, ulama terkenal Mekkah  menulis buku khusus tentang bolehnya merayakanMaulid Nabi Muhammad. Kitabnya berjudul Haulal Ihtifal bi Dzikrol Maulidin Nabawi as-Syarif. Berikut salah satu isinya:أننا نقول بجواز الاحتفال بالمولد النبوي الشريف والاجتماع لسماع سيرته والصلاة والسلام عليه وسماع المدائح التي تُقال في حقه ، وإطعام الطعام وإدخال السرور على قلوب الأمةLebih detail baca: حول الاحتفال بذكرى المولد النبوي للسيد محمد علوي المالكي

Habib Mundzir Al Musawa dalam bukunya Kenalilah Aqidahmu membuat daftar panjang kalangan ulama dulu dan kontemporer (muta'akhirin) dan kitabnya yang menghalalkan perayaan Maulid Nabi Muhammad sebagai berikut:

Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi)

Assyeikh Syamsuddin Aljazriy dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif 

Assyeikh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy

Assyeikh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah

Assyeikh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar 

Assyeikh Ibnul Jauzi dengan karangan maulidnya yg terkenal al aruus

Al Qasthalaniy dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah

Assyeikh Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dg maulidnya Urfu at ta’rif bi maulid assyarif.

Al ’Iraqy dg maulidnya Maurid al hana fi maulid assana

Imam ibn hajar al haitsami dg maulidnya Itmam anni’mah alal alam bi maulid sayidi waladu adam

AssyeikhIbrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

Assyeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy dg Maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

Assyeikh Ali Attanthowiy dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

Muhammad Al maghribi dg Maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

 KESIMPULAN HUKUM MAULID 

Peringatan atau perayaan maulid Nabi adalah bi'dah  karena tidak dilakukan pada zaman Nabi. Akan tetapi termasuk daripada bid'ah hasanah (hal baru yang baik) selagi apa yang dilakukan dalam peringatan maulid itu tidak bertentangan dengan spirit Al Quran, Sunnah, atsar Sahabat dan ijma' ulama.

para Sahabat banyak melakukan bid'ah. Seperti Abu Bakar dengan pengumpulan catatan Al Quran, Umar bin Khattab dengan tarawih dan Utsman bin Affan dengan pembukuan Al Quran yang dikenal dengan mushaf Utsmani dan beliau-beliau juga membaca surat Al-Maidah ayat 3,Dan lebih memahami maksud atau tujuan ayat tersebut daripada kita semua.

Demikian yang dapat kami berikan mudah -mudahan bermanfaat apa bila ada perbedaan dalam pemahaman tentang hukum maulid nabi saw kami kembalikan kepada keyakinan anda masing-masing jangan sampai perbedaan pandangan menjadikan perpecahan diantara kita sesama umat nabi saw dan apa bila ada kesalahan dalam penulisan huruf  arab mohon maaf dan terimakasi atas kunjungannya.

Kamis, 24 September 2015

Daftar Nama dan Alamat Pondok Pesantren di Semarang Dan Demak

Para pembaca blog Hikmah Kehidupan  yang terhormat pada kesempatan ini kami ingin memberikan info Nama Pondok Pesantren di Semarang Dan Demak,  Alamat ,Telepon ,Kecamat ,nama pengasuh
Pondok Pesantren sebagai berikut :




Berikut ini beberapa nama dan alamat Pondok Pesantren di kota Semarang

Nama Pondok Pesantren Alamat Telepon Kecamatan dan  pengasuh Pondok Pesantren

PP. Al Itqon Gugen Tlogosari Wetan 024 70772910 Pedurungan KH Ahmad Haris Shodaqoh,

PP. Nurul Qomar Sirayu 024 702524771 Gunung Pati Qomariyah MR

PP. Sabilul Huda Kandri RT. 01/01 085865157771 Gunung Pati Ahmad Supriyanto, K

PP. Ta'zhiimus Sunnah Jl. Dongbiru II/36 024 76587142 Genuk Abu Usamah Herwanto

PP. Istighfar Perbalan Purwosari No. 755 024 3584884 Semarang Utara Muh. Kuswanto K

PP. Nurul Iman Kebonharjo RT. 03/02 024 3548034 Semarang Utara Bambang Supriyanto

PP. Nurul Huda Jl. Puspogiwang Raya No. 23 024 70256507 Semarang Barat KH Ali Muhson AH,

PP. Al Fattah Jl. Irigasi Utara 03 024 8660359 Tugu KH  Zamakhsari

PP. Al Hadlir Jl. Kauman No. 31 024-8664982 Tugu Lukman Hakim

PP. Al Mukarror Panggung 08157712135 Tugu KH M. Mu'allim Nur,

PP. Al Muqorrobin Tapak Tugurejo 024-8663804 Tugu KH Abdul Hamid,

PP. An Nur Jl. Tirto III Rt. 05/01 024 866789 Tugu KH  Abd. Karim Assalawy,

PP. As Salamah Jl. Irigasi Utara No.03 024-8660359 Tugu KH M. Hamdani,

PP. Raoudlotul Qur'an Jl. Irigasi Utara Kauman 024 8660470 Tugu KH M. Thohir Abdullah

PP. Ri'ayatul Qur'an Mangkang Wetan RT. 01/05 08157601272 KH Tugu Abdul Hadi

PP. The Holy Al Furqon Putri Jl. Mangunharjo 024 8664313 Tugu KH Afifudin Mustari,

PP. Al Fattah JL. Masjid Terboyo No. 12 0817294410 KH Gayamsari Fakhurrozi,

PP. Al Madina Jl. Medoho Raya Gayamsari KH . Muhaimin Aji,

PP. Al Manshuriyah Jl. Margosari RT 02/ RW 07 024 3573051 Gayamsari KH Muhammad Suud

PP. Az Zumroh Sawah Besar I RT 04/01 081325060444 Gayamsari KH Imam Sholihin

PP. Addainuriyah 2 Putri Jl. Sendang Utara No. 38-A 024 6713076 Tembalang. KH Drs  Dzikron             Abdullah,
PP. Al Ishlah Jl, Kompil Sukamto 024-7467240 Tembalang KH Drs.  Amin Budi Harjono,

PP. Annuriyah Soko Tunggal Sendangguwo Raya No. 36 024-6724461 Tembalang KH  Nuril Arifin,       MBA.,
PP. At Thoriq Jl. Sendangguwo Selatan 024-6718011 Tembalang KH Afif Daenuri,

PP. Attauhid Gayamsari Selatan II RT 03/03 024-6707518 Tembalang K Moh. S. Sugeng Alhadad,           BA
PP. Az Zuhri Jl. Ketileng Raya No. 13 A 024-6703166 Tembalang K Muhamad Saiful Anwar ZR

PP. Darul Istiqomah Jl. Kapri Raya RT. 06/04 Tembalang K Untung Muslimin

PP. Addainuriyah- 2 Jl. Sendang Utara Raya 38 024-6713076 Pedurungan KH Drs Dzikron                       Abdullah,
PP. Darut Taqwa Jl. Ngumpul Sari 12 RT.03/04 024 70796932 Tembalang K M. Mudrik Abdulloh,         S.Ag
PP. Ibnu Salma Plamongansari RT. 03/13 024 70240886 Tembalang K Muhammad Slamet

PP. Khusnul Khotimah JL. Attaqwa RT 02/ RW 04 024 70798158 Tembalang KH Drs. Mustaghfiri         Asror
PP. Manabi'ul Qur'an Jl. Al Iman Rowosari Krasak 081325271940 Tembalang K M. Amir Hanan

PP. Manbaul Qur'an Saiful Hasa Rowosari Krasak 081325629011 Tembalang K Mukhlis Ruba'i,

PP. Nurul Huda Az Zuhdi Jl. KH. Zuhdi Meteseh 024 70799919 Tembalang Ali Musyafa' Zuhdi

PP. Nurul Qur'an Muntuk Sari RT 02 Rowosari 024-70701289 Tembalang K Ahmad Suhadi SA

PP. Sarochaniyyah Tunggu Meteseh RT 02/RW 09 024-70776310 Tembalang KH  Sarochan

PP. Taqwalilah Jl. Tunggu No. 14 024-6749777 Tembalang KH  Syaichun,

PP. Uswatun Hasanah Mangunharjo RT. 05/02 024 70241072 Tembalang K Ismail, S.Ag.

PP. Luhur Wahid Hasyim Jl. Menoreh Tengah II/14 024 70137586 Gajah Mungkur  KH, Drs Amdjad       Al Hafidz

PP. Al Bisri Jl. Sendang Pentul RT 06/RW  0 024-8504542 Banyumanik HM Shokis

PP. Al Burhan Hidayatullah Gedawang RT 02/02 024 70221580 Banyumanik K Drs Hasan Rofidi,

PP. Subullassalam Jl. Setiabudi No. 205 024 7470584 Banyumanik KHMauzun Damuri,

PP. Al Hikmah JL. Pesantren 03 RT.01/05 024-6716657 Pedurungan KH, Drs M. Qodirun Nur,

PP. Al Ibriz Jl. Majapahit 248-Semarang 024-6718233 Pedurungan  K Abdullah Rizka

PP. Al Ikhlas Pedurungan Lor 01/01 024 6716348 Pedurungan K Ulil Albab, S.Ag.

PP. Al Ittihad Jl. KH. Abdurrahman Bugen 024 70187133 Pedurungan K Abdul Ghoni

PP. Al Muttaqin Plamongan Sari RT 3/2 024 6706545 Pedurungan K Muhsin,

PP. At Taqwa Jl. Sunan Kalijaga 024-6713860 Pedurungan  K Ahmad Hanif

PP. At Thohiriyyah Jl. KH. Thohir No.36 024-6715642 Pedurungan KHM. Yusuf Masykuri, Lc

PP. Azzahro' Jl. KH. Thohir 76 A- Penggaron 024-6701180 Pedurungan KH Abd. Rahman,

PP. Darul Hasanah Plamongansari RT. 01/03 024 6715316 Pedurungan KH Suparwito,

PP. Infarul Ghoy Plamongansari 024 6716917 Pedurungan  K Asfaroni Asror, M.Ag.

PP. Mambaul Hidayah Gugen Muktiharjo Kidul Pedurungan KH Mahmud,

PP. Manba'ul Hikmah Penggaron Kidul RT 1/4 024-6709251 Pedurungan K Abdul Manan

PP. Nurul Falah Putra JL. KH. Thohir Gang 5 RT 02/ R 024-6706840 Pedurungan K Nur Chamim           Aminudin Zainal
PP. Nurul Hidayah Pedurungan Lor RT. 01/05 024-6731815 Pedurungan KH Masyhudi Asy'ari,

PP. Roudlotul Ni'mah Jl. Supriyadi Kalicari IV 024-6715583 Pedurungan   Drs, KHM. Ali Shodiqin,

PP. Salafiyyah Al Munawir JL. KH. Munawir No. 13 024-6714638 Pedurungan Drs., KH Ahmad             Baidlowi,
PP. Syaroful Millah Jl. KH. Thohir No. 35 024-6713691 Pedurungan KH A. Tahsinul Faiz

PP. Al Iman Jl. Pelem Kuweni No. 1 Tambak 081327520662 Ngalian  HJ Nur Aini Hermani,

PP. Al Ma'rufiyyah Bringin Tambakaji RT 02/08 024-7605011 Ngalian KH  Abbas Masruchin,

PP. Luhur Dondong Dondong Wonosari 024 8662615 Ngalian KH  Dihyatun Masqon, Ma,

PP. Luhur Salafi Dondong Wonosari 024-8663212 Ngalian  KThubagus Mansyur

PP. Mambaul Qur'an Jurang RT. 01/06  Ngalian  K Gus Muntaha .
 
PP. Manba'ul Huda Jl. Kauman I Pondok Ngalian KH Shodiq Sumardi

PP. Qur'anil Aziziyah Bringin RT. 01/01 024 7621004 Ngalian KH Sholeh Mahalli

PP. Roudlotul Mutaallimin Wates Ngaliyan 024 7628272 Ngalian KH Abrori

PP. Sultan Fatah Jl. Wonosari Km. 13 024 70180444 Ngalian KH Juned Amin

PP. Tahafudhul Qur'an Segaran Baru Rt 03/XI 024-7603788 Ngalian  KH Anna Umar AH,


Berikut ini beberapa nama dan alamat Pondok Pesantren di Kab. Semarang

Nama Pondok Pesantren Alamat Telepon Kecamatan dan  pengasuh Pondok Pesantren

PP. Darul Quddusis Salam KH. Jalal Suyuthi 0298-313314 Tengasan KH Nur Cholis,

PP. Darul Robbani Galangan Rt. 01/05 0298 615269 Susukan K Al Hafidz  Sholin

PP. Nurul Furqon Talok Rt. 20/05 08179556479 Susukan K Asyuri Muntaha,

PP. Al - Munawar Paseran 081575639150 Suruh  K Asrori Abdurrahman

PP. Al Mahmudiyah Noloprayan  Suruh K M. Hafik Amin

PP. An Nibros Al - Hasyim Assa Rekrosari  Suruh K Nur Salim Mawardi

PP. Himalatil Qur'an Al Manshu Ploso Suruh  Suruh KH Wafir Rahman,

PP. Tarbiyatul Muballighin Jl. Raya Suruh Karanggede Reks 0298 317077 Suruh K Drs Bahrurozi,

PP. Al - Ihsan Sraten Rt. 01  Rw. 03  Tuntang K Tadzkir Mansur,

PP. Al - Maskur Kalisari Jombor Rt. 01 Rw. 04 081575538366 Tuntang K Ahmad Afif

PP. Al Asyhar Ngentaksari 08156514366 Tuntang KH Baedhawi,

PP. Al Fadlil Gudang  Tuntang K Imam Hafidz

PP. Al Falah Kauman Santren Rt. 01 Rw. 05  Tuntang KH Muhammad Khoiri,

PP. Al Istianah Ngelosari 08882528068 Tuntang K Diaudin

PP. Al Khoiriyah Banjaran  Tuntang K Ahmad Mansuri

PP. Al Riyadloh Kesongo  Tuntang K Syamsurro'yi

PP. An - Nur Jl. H. Nur Klego  Tuntang  KH Madhalib Makmun,

PP. Assalafiyah Gading  Tuntang Ali Ridlo KH.

PP. Edi Mancoro Bandungan Rt. 02 Rw. 01 0298-313329 Tuntang KH Mahfudz Ridwan, Lc

PP. Kramat Sejambu  Tuntang K Ahmad Suaidi

PP. Miftakhul Ulum Susukan  Tuntang K Ahmad Multazam

PP. Nurul Huda Colombo Lopait  Tuntang KH Tolhah

PP. Roudlatul Usyaagil Qur'an Rowopolo 0298-312765 Tuntang K Masduq Hariri

PP. Roudlotul Huffadz Lopait  Tuntang K Ahmad Rifa'i

PP. Bustanu Usysyaqil Qur'an Kepil Rt. 02/04 085640070992 Banyubiru  K M. Syahadi Noor

PP. Bustanut Tholibin Krajan Rt 03/02 Tegaron 0817450521 Banyubiru K Bahruddin Latief

PP. Roudatul Furqan Jl. Mahakam  RT. 02/07 0298 7100544 Banyubiru KH Aly Imron Al Hafidh,

PP. Sabihul Huda Krajan Tegaron 0298-592713 Banyubiru K Achmad Mundakir,

PP. Al Iman Bantunganti Kebon Dalem  Jambu K Muhyidin Asy'ari,

PP. Mambaussa'diyah Kaliwinong  Jambu  K Ridlo Wahyudi

PP. Al Iman Jl. Bantir No. 40 0298 713118 Sumawono  KH Bachrodin

PP. An Najiyah Kemuning Pledokan 024 70306560 Sumowono  KH Ahmad Rofi'i

PP. Nurul Amin Jl. Kychotibanom 86 0298 713531 Sumowono  KH Nurchamim

PP. Kiai Putih Ngonto Candi 0298 712031 Ambarawa  K Hasan Murtaji

PP. LPP. Hidayatussibyan Jetak  Ambarawa K Faizin

PP. Ummul Quro' Gedangan RT. 04/06 081325424079 Ambarawa K M. Dahlan

PP. Almas'udiyah Blater Jimbaran 0298-52179 Bawen   KH Ali Mas'ud,

PP. Nurul Hikmah Harjosari  Bawen  K Moh. Imam Sonhaji

PP. Al Hamidiyah Dukun Rt. 03/01  Bringin KH Mabruri

PP. Al Ittihad Poncol, Popongan 0298 710110 Bringin KH Fadli Asy'ari,

PP. Bustanul Muta'allimin Brojodito Rt. 08/ Rw. 04 Pakis 081325695189 Bringin KH Marsudi                 Syaifuddin,
PP. Miftahul Ulum Rembes 024 70192184 Bringin KHM. Hasyim Asyari,

PP. Al Hikmah Jl. Bangka No. 18 024 76912498 Ungaran K M. Syaifudin

PP. Al Ikhlas Jl. Cempaka I RT 01 RW 05 0246927532 Ungaran K M Fadhan Al Hamdani

PP. Al KAromah Jl. Ngori Gunung  Tugel  Ungaran K Supriyono, S,Ag.

PP. Al Muhlisin Gundang Nyatnyono 024 70790140 Ungaran KH M. Wahib .

PP. Al Uqola Jl. Curug Lawe Kalisidi  Ungaran KH Khumaidi

PP. At Thohiriyah Cemanggah Kidul Branjang 081325373180 Ungaran KH Muhammad Thohari,

PP. Mamba'ul Hisan Gogik RT. 04/01 085640898228 Ungaran KH Aguus Salim

PP. Roudlotul Hikmah Branjang 081325611326 Ungaran K Imam Masyhuri

PP. Al Falah Kauman Lor RT 03 RW I 085226018478 Pabelan K Ghozi Harun,

PP. Al Ittihad Semowo 082-27872371 Pabelan  KH Masykuri,

PP. Haji Abdurrohim Jl. K. Ibrahim 081575019568 Pabelan K Habib Ansori

PP. Roudlotut Tholibin Karangguli RT. 01 / 02 081325162380 Pabelan Drs. KH  M. Hamdan                   Asnawi

PP. Al Hidayat Dusun Duwet RT 01 RW 04 Klepu 024.6930574 Pringapus K Muh. Ulin Nuha, Lc

PP. Manba'ul Qur'an Lakangan Wonoyoso 082.2726857 / 0 Pringapus KH Imam Muhadi,

PP. Al Falah Srumbung Jurang  Bergas KH Yasin Fathoni,

PP. Al Musthofa Jl. Lemahabang Bandungan  Bergas K M. Aminuddin

PP. Darus Salam Jl. Syeh Penanggalan No. 5 024 6926693 Bergas KH M. Murodi

PP. LPP Hidayatussibyan Bergas Lor RT. 02/11  Bergas K Supardi

PP. Nurul Musthofa Krajan 0298 523308 Bergas KH Ma'ilan Arif Musthofa .

PP. Bustanul Usyaqil Quran Wonokerto  Bancak K M Fauzi

PP. Sirojul Anwar Boto  Bancak  K Zamroni

PP. Al Islah Pager 085229496724 Kaliwungu  KH Musthofa Dimyati

PP. Darul Falah Kiringan Selatan  Kaliwungu  KH Joko Suwarno

Berikut ini beberapa nama dan alamat Pondok Pesantren di Kab. Demak

Nama Pondok Pesantren Alamat Telepon Kecamatan dan  pengasuh Pondok Pesantren

PP. Giri Kesumo Banyumeneng 024 6773038 Mranggen KH  Munif M Zuhri,

PP. Al Amien Jl. Subciran Timur Mragen Subu 024- 6710092 Mranggen KH M. Ali Mahsun, S.Ag

PP. Al Amin Suburan  Mranggen KH Syamsun,

PP. Al Anhar Batursari  Mranggen K Anhar Mustain,

PP. Al Anwar Futuhiyah Suburan  Mranggen K Abd. Karim,

PP. Al Badriyyah Jl. Suburan Mraggen Demak 024- 6722176 Mranggen KH Muhibbin Ms, AH,

PP. Al Bahroniyyah Ngemplak Mranggen Demak  Mranggen KH Ma'sum,

PP. Al Ghozali Kebon Batur  Mranggen KH Zaeni Mawardi,

PP. Al Hadi Giri Kusuma Rt. 07 Rw. 03  Mranggen K Munhamir Malik

PP. Al Islah Batursari  Mranggen  K Abdul Rosid

PP. Al Ma'ruf Candisari RT. 06/02 024-6511820 Mranggen K Masrum Kholil,

PP. Al Maghfur Jl. Raya Mranggen No. 197  Mranggen KH Sholeh,

PP. Al Mubarok Mraggen Demak 024- 6772035 Mranggen KH Machdum Zen,

PP. Al Murodi Surukan  Mranggen KH Maqtun,

PP. Al Murodi Suburan  Mranggen  KH Choliq, Lc

PP. Al Murtadlo Jl. Kauman Rt. 04 Rw. 3 082- 24419708 Mranggen KH A Latif,

PP. Al-Ihsan Kebon Batur Rt. 02 Rw. 05  Mranggen K Hilmi Ihsan,

PP. Anwarul Qur'an Waru  Mranggen K Hasan Anwar,

PP. Asysyarifah Brumbung 024- 6772223 / Mranggen KH Mahfudi,

PP. Bahrul Ulum Jleper 0291 3307364 Mranggen KM. Sholikin

PP. Baitut Taqwa Sendang Delik Sumberejo  Mranggen  K Musyara',

PP. Darus Sa'adah Jl. Tegalmas Rt. 09 Rw. 02 024- 6772035 Mranggen  KH Abdullah Asif, , Lc

PP. Futuhiyyah Jl. Suburan 024- 6711843 Mranggen KH Lutfi HAkim Muslih,

PP. Hidayatus Sholihin Dukuh Teguhan 024 70775785 Mranggen K Kusdi,

PP. Ibrohimiyah Brumbung  Mranggen KH Romadhon Ichsan,

PP. Mahadus Shighor Al Mustaqi Jl. Rayung Kusuman  Mranggen KH Maksum,

PP. Modern La Tansa Cangkringan B 0813 25466714 Mranggen  K Ulin Nuha

PP. Nurul Ulum Batusari 024- 3562280 Mranggen KH Abdurahman Sholeh,

PP. Raudlotul Muttaqin Jl. Jagalan No. 47 0346-772058 / 0 Mranggen KH Ishaq,

PP. Rohmaniyah Menur  Mranggen KH Nurhadi Abdurrohman,

PP. Roudlotul Qur'an Kangkung  Mranggen K M. Abd. Karim, BA

PP. Solohiyyah Kali Tengah 024 70704451 Mranggen K Muhibin,

PP. Yanbaul Qur'an Kramat  Mranggen KH  Hasan Muhadi AH,

PP. Al Furqon Sidorejo 081 576654791 Karangawen KH Drs Halimi Nusain,

PP. Al Mubassyir Karangawen 081-325603, 516 Karangawen K Muktiy Mustajab,

PP. Ataufiq Brambang 3/1 0813 26077566 Karangawen K Ali Mudlofar, S.Pd.I

PP. Mansyaul Huda Tlogo Gedong Rt. 1 Rw. 4 0292-536716 Karangawen KH Ahmad Khotibul               Umam,
PP. Roudlotul Mubarokah Rejosari  Karangawen Nyai Mashlichah Ach,

PP. Roudlotuth Tholibin Jrabung 0292-533660 Karangawen KH Muhamad Marwan ,

PP. Al 'Arifiyyah Wonorejo  Guntur KH M. Khomsun

PP. Al Karimah Desa Temuroso 08170583849 Guntur K Drs Munasir

PP. Assa'adah Jl. Embah Sandoko Genteng  Guntur  K Syaikul Habib,

PP. Baitut Tholibin Puritan 085225970713 Guntur KHM. Taufiqul Kamal, SH

PP. Bustanut Tholibin Bogorejo 085267967886 Guntur K M  Fadlil,

PP. Darun Naja Guntur  Guntur  KH Umar Makun,

PP. Sabilul Muttaqin Trimulyo 081-325602481 Guntur KH Hambali Karim,

PP. Tanwirul Wafa Gaji 02470786686 Guntur K Ahmad Jajuli,

PP. Zahrotul Qur'an Karangturi Desa Bogosari  Guntur KHM. Zuhri, , S.Pd

PP. Al Hikmah Jl. Raya Genuk Pamongan 024 70776240 Sayung KH Thohir

PP. Al Inhadl Purwosari Rt.01 Rw.03 024 6514136 Sayung KH Muhammad Ma'shum,

PP. At Tamri'iyyah Pangkalan Tugu 024 70791481 Sayung KH. Khasan Bisri

PP. Bustanu Ussyaqil Qur'an Karang Asam 024- 6522370 Sayung KH Zainal Arifin,

PP. Darul Ulum Bulusari  Sayung KH Ali Imron

PP. Fathul Huda Sidorejo 024- 6511556 Sayung KH. Zaenal Arifin

PP. Hidayatul Muttaqin Tugu  Sayung  K Abdul Mujib

PP. Hidayatul Qur'an Ngepreh 024 70781375 Sayung  K Nurfatoni Zein

PP. Nahdlatusy Syubban Kp. Karangayu Rt. 02 Rw. 01 024-6583850 Sayung K Ahmad Djumani,

PP. Nurul Qur'an Purwosari Timur 024 6584988 Sayung  KH Umar Sadeli S,

PP. Nurul Yaqin Karang Asam Sayung Demak 024 70791342 Sayung KH Totok Toha,

PP. Al Hidayah Wonosobo  Krg. Tengah KH Mathori, S.Ag

PP. Al Mubarokah Klitih  Krg. Tengah KH Masrurun,

PP. Asysyafa'ah Pidodo  Krg. Tengah K Abdul Ghoni,

PP. Bustanu Adail Qur'an Desa Klitih  Krg. Tengah KH Sholeh,

PP. Nurul Falah Ds Batu 024 6511500 Krg. Tengah KH M. Nastain Arifin

PP. Sabilun Qur'an Ploso  Krg. Tengah K Zaenal Arifin,

PP. Sabilunnajah Ploso 0291 688637 Krg. Tengah K Masruri Luqman,

PP. Tahifidul Qur'an Al Hikmah Donorejo  Krg. Tengah  K Masruchan,

PP. Al Ghurriyyah Bener-Weding 0291 3335282 Bonang K, Drs Mas'udi Madchan,

PP. Al Ibriez Serangan 0291-687266 Bonang KH Maftuhin Manshur,

PP. Al Ma'ruf Surungan 0291- 688029 Bonang K M. Thobib,

PP. Al Muhsin  085225874193 Bonang K M. Kikhu

PP. Annur Konsi 0291-688064 Bonang K Moh. Afif Zuhri,

PP. Assalafiyah Asyafiiyah Jatirogo 0291 688062 Bonang KH Amin Kudlori,

PP. Darul Ulum Tridonorejo 1/1 081325111380 Bonang KH M Chuzaeni,

PP. Darus Salam Pongangan  Bonang K Abdul Latif

PP. Hidayatul Rohman Gebang 0291-688057 Bonang K Moh. Asnawi Ali,

PP. Nurul Islam Betah Walang 081-22872158 Bonang  KH Ahmad Ridwan,

PP. Roudhotut Tholibin Malianan Weding 0291-687106 Bonang  KH Nurul Huda MS,

PP. Roudlatul Muta'alimin Serangan Krajan 0291 687265 Bonang K Musyaffa,

PP. Tabligur Risalah Morodemak 081 32621314 Bonang K M Taslim,

PP. Yambuut Tahfidhil Qur'an Pongangan Purworejo 0291-687978 Bonang  K M. Sholeh Ilyas,

PP. Al Islah Jl. K Turmudi, Sempalwadak 10  Demak KH Fadlol Aly Chd,

PP. Al Istiqomah Jl. K Turmudzi 34 0291-685642 Demak KH ALM Nur Hamid Badawi,

PP. Assujudiyyah Jl. Glagah Wangi, Tembirine  Demak  K Munawar Sujud,

PP. Attaslim Jl. Kalijajr No. 9 0291 681382 Demak KH Muh. Nurul Husa, MA

PP. Badruz Zaman Bango 082-2917782 / 0 Demak K M. Masykur

PP. Bustanul Usyaqil Qur'an Jl. Sunan Kalijaga 35 0291-685802 Demak KH  Harir Muhamad,

PP. Bustanuth Tholabah Turirejo  Demak K Abdul Rosyid,

PP. Darussalam Jl. K. Jebat 7 Bintoro Demak 0291- 685825 Demak  K Maftuchin Sulaiman

PP. Miftahul Falah Kalisusukan 0291- 686264 Demak KH Rohmat Suyuti,

PP. Nahdlotul Fata Asyababain Kadilanggu Demak 0291-681238 Demak KH Muhsin Saerozi,

PP. Nurul Hikmah Jl. Kyai Singkil No. 16 Bintar 0291-85860 Demak KH Musyafa Achmad,

PP. Nurul Qur'an Raji 082-2417206 Demak  KH Mahfudhon, S.Ag

PP. Subulussalam Jl. Yudha Menggala 0291-686197 Demak KH Drs M Khafid Khasri,

PP. Al Falah Jogoloyo  Wonosalam K Shofiyulloh Ar,

PP. Al Hidayah Jl. P. Diponegoro 64 0291-688620 / 0 Wonosalam K Masruri,

PP. Al Jalil Jl. Diponegoro RT. 02/03  Wonosalam K Sufyan,

PP. As Shidiqiyyah Wonosalam  Wonosalam  K Ali Shodiqin,

PP. Darul Anwar Kendal Doyong  Wonosalam K M Sholeh

PP. Darussalam Demung Kerangkulon  Wonosalam  K Daman Huri,

PP. Miftahul Ulum Jogoloyo 0291- 686312 Wonosalam KH Khumaidi Tamyiz,

PP. Nujulur Rahmah Klawean Desa Botorejo  WonosalamKH M. Marosun Miftahudin,

PP. Nurul Furqon Wonosalam 0291-688759 Wonosalam KH Syarifuddin,

PP. Raudlotus Sholikhati Karangrowo  Wonosalam KH A. Rusydi,

PP. Sabilul Huda Pilangrejo 0822-427578 Wonosalam KH Muh. Adlan Nur

PP. Sirojul Ulum Temuireng Trengguli  Wonosalam K Muklas Siroj,

PP. Sunan Kalijaga Jogoloyo  Wonosalam K Masrokhan Dahlan

PP. Tasyri'iyah Alawiyyah Jogoloyo  Wonosalam  KH Ma'shum Dahlan,

PP. Yanabi'ul Ulum Wal Hikam Karangrowo  Wonosalam, KHM, Drs Fadlol Basori,

PP. Barokatul Qur'an Serkan Megoten 081325734285 Dempet  KH Ali Subchan Ahmad

PP. Bustanul Usysyaqil Qur'an Harjowinangun Rt. 02 Rw. 03 0818-246652 Dempet KH Abdul                 Choliq,
PP. Mambaul Qur'an Harjowinangun 0291 3304720 Dempet KHM. Hilmi Musta'in, , Lc

PP. Muhsin Al Asyrof Desa Kramat  Dempet K  Baedhowi  

PP. Roudhotul Ulya Brakas Rt. 03 Rw. 02  Dempet K Nur Halim Al Hafidh

PP. Roudlotul Qur'an Dempet 0291-86136 Dempet  KH Abd. Ghofur 

PP. Al Hasyimy Wilalung  Gajah  Nyai Hj Badriatul Hasanah, .

PP. Al Irsyad Al Mubarok Jl. Raya Gajah Dempet 0291-4284022 Gajah  K Nur Fauzi, S.Ag

PP. Nurul Istiqomah Gajah 0291 689722 Gajah KH Ahmad Daedloei Safi 

PP. Nurul Qur'an Desa Gedang Alas  Gajah K Mustofa, 

PP. Babul Ulum Ngaluran RT. 04/VI 0291 689546 Karanganyar K, Drs  Abdul Wahab, 

PP. La Tansa Cangkring B 0813 25466714 Karanganyar  K Ulinuha

PP. Manbaul Qur'an Tugu Lor Rt. 05/01 0291 3305462 Karanganyar K Muhammad Wahib,

PP. Bahrul Ulum Jl. Eper  Mijen  K M. Sholichin, 

PP. Darun Nuroin Jl. K Romli No. 35 Rt. 04/02 0291- 688193 / Mijen  KH Luthfi Hakim, 

PP. Darussalam Ngemplak Jl. Pondok Pesantren 0291- 688273/68 Mijen KH M. Said Ahyadi, 

PP. Darussalam Bermi Rt. 01/ Rw. 01 0291- 688364 Mijen  K Barokah Syarqowi

PP. Manzilul Qur'an Jl. Mijen-Wedung No. 180 0291-688367 Mijen  K Masrudi Mahfudh

PP. Miftahul Janah Mlaten 081 575169393 Mijen  K Asyhadi Abdulloh, 

PP. Al Amin Babalan 081-22510132 Wedung KH M. Amin Dahlan, 

PP. Al Hikmah Bungo 0291 687245 Wedung  KH Masrohan Effendy, 

PP. Al Ijttihad Jl. Raya Jungpasir 082-2400885 Wedung  KH, Ir. Agus Mansyur,

PP. Al Manar Kenduren 0291 687066 Wedung  K Tafrihan

PP. Al Maron Madung 0291-687235 Wedung K Ahmad Haris Al Hafidz

PP. Annuriyah Gg. Wijatmoko Mutih Lulon 8122-905269 Wedung Nyai Zahiroh, 

PP. At Tanwir Ngawen Wedung 0291-687008 Wedung  KH Ahmad Rodli, 

PP. Futuhul Ulum Buko Rt. 01 Rw. 05 Wedung 0291 687048 Wedung KH  Arifin Latif, 

PP. Mansya'ul Huda Jetak 081-22852201 Wedung KH  Abdul Malik, 

PP. Nurul Furqon Kedung Mutih 082-2910821 Wedung K Ulil Abshor Al Hafidz

PP. Raudlatul Jannah Sabetan Barat Wedung 0291-687015 Wedung KH Masykuri Abdullah, S.Ag

PP. Raudlotussalikin Buko Rt. 03 Rw. 05 0291- 687205 Wedung  KH Ali Mukarrom, 

PP. Roudlotut Tholibin Kenduren 0291-687064 Wedung  K Zaini Abdillah,

PP. Thoriqul Huda Kedung Karang 0291 3318873 Wedung  K A Hadi Thosin, 

PP. Al-Ma'arif Pilangwetan Rt. 03 Rw. 02 0294- 533372 Kebon Agung KH, Drs  Masruchin Ahmad,

PP. Asnawiyyah Jl. Kauman 23 Pilangwetan 0292-536226 Kebon Agung KH M. Muchozin, 

PP. Bustanul Qur'an Pilang Wetan 081325865287 Kebon Agung Munawir, K

PP. Hidayatul Mubtadiin Jl. Buntu Pilang Wetan 0292-533445 Kebon Agung K Masykuri, BA

PP. Sirojuth Tholibin Dukuh Tirip 0292 7703311 Kebon Agung K Ulil Albab, 

PP. Barokatul Qur'an Meganten 085225180160 Kebon Agung  KH Ali Subchan Ahmad 

PP. Al Asnawiyyah Alamat Trimulyo Telp 02915710317/ 08156636622 Pengasuh KHM Gus Ulin           Nuha Azka

Demikian  info Daftar Nama dan Alamat Pondok Pesantren di Semarang Dan Demak yang dapat kami berikan apabila ada kesalahan nama dan gelar kami mohon maaf sebesar-besarnya, mudah -mudahan bermanfaat dan terimakasi atas kunjungannya.

Selasa, 22 September 2015

Keutamaan Puasa Sunnah Arafah

Para pembaca blog Hikmah Kehidupan  yang terhormat pada kesempatan ini kami ingin menulis artikel tentang  Keutamaan Puasa Arafah sebagai berikut :



Imam Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.” 

Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.” 

Puasa Arafah memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan, diantaranya:

1. Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun yang         akan datang.

2. Allah SWT akan menjaganya untuk tidak berbuat dosa selama dua tahun.

3. Insyaallah dibebaskan dari api neraka.

Dalil yang tegas tentang keutamaan puasa arafah ini adalah hadits dari Abu Qatadah Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa Arafah dihitung di sisi Allah sebagai menghapus (dosa) tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya”. (HR. Muslim)

Adakah hal lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan kemuliaan lainnya?

Di samping berpuasa pada hari Arafah, dianjurkan juga untuk memperbanyak amal-amal shalih lainnya seperti shalat sunnah, memuliakan anak yatim , sedekah , zikir, takbir, tilawah Quran, berbakti kepada orang tua, dan amal-amal shalih lainnya.

Untuk itu, puasa Arafah sebaiknya kita pergunakan kesempatan semaksimal mungkin.
Insya Allah, amalannya bisa meninggikan derajat, memperbanyak catatan kebaikan, dan juga menghapuskan dosa-dosa.

Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Setelah kita mengetahui keutamaan puasa Arafah ini, tinggal yang penting prakteknya. sampaikan pada keluarga dan saudara kita yang lain, itu lebih baik. Biar kita dapat pahala, juga dapat pahala karena telah mengajak orang lain berbuat baik.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).

NIAT PUASA ARAFAH:

نويت صوم عرفة سنة لله تعالى

Nawaitu Shauma ‘Arafata Sunnatan Lillahi Ta’ala

Artinya:“Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”
Selamat menjalankan puasa arafah sebekum hari besar idul adha  Semoga puasa arafah maupun puasa tarwiyah anda bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun. Amiin.
Demikian yang dapat kami berikan mudah -mudahan bermanfaatdan terimakasi atas kunjungannya.

Keutamaan Puasa Sebelum Idul Adha Arafah Dan Niat Puasa Arafah

Para pembaca blog Hikmah Kehidupan  yang terhormat pada kesempatan ini kami ingin menulis artikel tentang Keutamaan Puasa Sebelum Idul Adha Arafah  Dan Niat Puasa Arafah sebagai berikut :



Puasa Sebelum Idul Adha biasa disebut dengan Puasa Arafah, Hukum melaksanakan ibadah puasa Arafah adalah sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan.
Puasa Arafah ini dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, Tepat pada waktu jamaah haji sedang melaksanakan ibadah wukuf di Arafah, tepatnya sehari sebelum hari raya Idul Adha,
dan puasa ini dikerjakan ketika jamaah haji sedang melakukan wukuf di Arafah

Imam Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”

Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”

Puasa Arafah memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan, diantaranya:

1. Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun yang akan datang.

2. Allah SWT akan menjaganya untuk tidak berbuat dosa selama dua tahun.

3. Insyaallah dibebaskan dari api neraka.

Dalil yang tegas tentang keutamaan puasa arafah ini adalah hadits dari Abu Qatadah Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa Arafah dihitung di sisi Allah sebagai menghapus (dosa) tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya”. (HR. Muslim)

Adakah hal lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan kemuliaan lainnya?

Di samping berpuasa pada hari Arafah, dianjurkan juga untuk memperbanyak amal-amal shalih lainnya seperti shalat sunnah, sedekah, zikir, takbir, tilawah Quran, berbakti kepada orang tua, dan amal-amal shalih lainnya.

Untuk itu, puasa Arafah sebaiknya kita pergunakan kesempatan semaksimal mungkin.

Insya Allah, amalannya bisa meninggikan derajat, memperbanyak catatan kebaikan, dan juga menghapuskan dosa-dosa.

Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51) Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 7: 498-500).
Setelah kita mengetahui keutamaan puasa Arafah ini, tinggal yang penting prakteknya. sampaikan pada keluarga dan saudara kita yang lain, itu lebih baik. Biar kita dapat pahala, juga dapat pahala karena telah mengajak orang lain berbuat baik.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).

NIAT PUASA ARAFAH:

نويت صوم عرفة سنة لله تعالى

Tulisan Latin: Nawaitu Shauma ‘Arafata Sunnatan Lillahi Ta’ala

Artinya:“Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”

Selamat menjalankan puasa arafah sebelum hari besar idul adha . Semoga puasa arafah maupun puasa tarwiyah anda bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun. Amiin.
Demikian yang dapat kami berikan mudah -mudahan bermanfaat dan terimakasi atas kunjungannya.

Jumat, 18 September 2015

Hukum Mengenakan Jilbab Dan Cadar Menurut Empat Mazhab

Para penugnjung blog Hikmah Kehidupan yang terhormat pada kesempatan kali ini kami ingin menampilkan artikel tentang Hukum Mengenakan Jilbab Dan Cadar Menurut Empat Mazhab dengan dalil Al-Qur an dan al hadits sebagai berikut:




Apakah kita sebagai wanita muslimah wajib memakai jilbab dan Bagaimana hukum memakai jilbab? Mungkin pertanyaan itu yang muncul dalam benak wanita muslimah. Apalagi dewasa ini banyak wanita kebanyakan tidak memakai jilbab. Berikut penjelasan Perintah dan Hukum memakai jilbab Bagi Wanita Muslimah.

Apakah kita pernah mendengar dalam ceramah agama. ulama dalam ceramahnya ada yang mengatakan seorang wanita yang tidak memakai jilbab, jangankan masuk surga,  mencium bau surganya saja tidak diizinkan Allah.

Subhanaalah apakah kita sebagai wanita muslim tidak menyadari kalimat di atas ini adalah suatu ancaman bagi wanita muslim.

Hukum Mengenakan Jilbab

Seorang perempuan cerdik dan sholihah Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah berkata: “Sungguh, musuh-musuh Islam telah mengetahui bahwa keluarnya kaum perempuan dgn mempertontonkan aurat adalah sebuah gerbang diantara gerbang-gerbang menuju kejelekan dan kehancuran. Dan dengan hancurnya mereka maka hancurlah masyarakat. Oleh karena itulah mereka sangat bersemangat mengajak kaum perempuan supaya rela menanggalkan jilbab dan rasa malunya…”

Beliau juga mengatakan: “Sesungguhnya persoalan tabarruj (mempertontonkan aurat) bukan masalah ringan karena hal itu tergolong perbuatan dosa besar.” (Nasihati li Nisaa’, hal. 95)

Allah ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian utk menutup auratmu  dan pakaian indah utk perhiasan. dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu    adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.                  (QS. Al-A’raaf: 26)

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tak di ganggu.dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Ayat yang disebut dengan ayat hijab ini memuat perintah Allah kepada Nabi-Saw agar menyuruh kaum perempuan secara umum dengan mendahulukan istri dan anak-anak perempuan beliau karena mereka menempati posisi yang lebih penting daripada perempuan yang lainnya, dan juga karena sudah semestinya orang yang menyuruh orang lain untuk mengerjakan suatu (kebaikan) mengawalinya dgn keluarganya sendiri sebelum menyuruh orang lain. Hal itu sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”                                         (Taisir Karimir Rahman, hal. 272)

Abu Malik berkata: “Ketahuilah wahai saudariku muslimah, bahwa para ulama telah sepakat wajibnya kaum perempuan menutup seluruh bagian tubuhnya,dan sesungguhnya terjadinya perbedaan pendapat yang beranggapan hanyalah dalam hal menutup wajah dan dua telapak tangan.” (Fiqhu Sunnah li Nisaa’, hal. 382)

 Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah berkata: “Ada segolongan orang yang mengatakan bahwa hijab (jilbab) adalah dikhususkan untuk para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab Allah  berfirman (yang artinya): “Wahai para isteri Nabi, kalian tidaklah seperti perempuan lain, jika kalian  bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara karena akan membangkitkan syahwat orang  yang di dalam hatinya tersimpan penyakit. Katakanlah perkataan yang baik-baik saja.”                  (QS. Al-Ahzab: 32)

Maka jawabannya adalah: Sesungguhnya kaum perempuan dari umat ini diharuskan untuk mengikuti isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam. Syaikh Asy-Syinqithi mengatakan di dalam Adhwa’ul Bayan (6/584) tatkala menjelaskan firman Allah: “Apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (isteri Nabi) maka mintalah dari balik hijab, yang demikian itu akan lebih membersihkan hati kalian dan hati mereka…” (QS. Al-Ahzab: 53)

Alasan hukum yang disebutkan Allah dalam menetapkan ketentuan ini yaitu mewajibkan penggunaan hijab karena hal itu lebih membersihkan hati kaum lelaki dan perempuan dari godaan nafsu di dalam firman-Nya, “yang demikian itu lebih membersihkan hati mereka dan hati kalian.” merupakan suatu indikasi yang sangat jelas yang menunjukkan maksud bahwa mengenakan jilbab bisa menjaga kebersihan hati.

Dengan begitu tak akan ada seorangpun diantara seluruh umat Islam ini yang berani mengatakan bahwa selain isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam tak membutuhkan kebersihan hati

Dengan keterangan yang sudah kami sebutkan ini maka anda mengetahui bahwa ayat yang mulia ini menjadi dalil yang sangat jelas yang menunjukkan bahwa wajibnya berhijab adalah hukum umum yang berlaku bagi seluruh kaum perempuan, tak khusus berlaku bagi para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam saja, meskipun lafal asalnya memang khusus untuk mereka.

Di dalam kamus dijelaskan bahwa jilbab adalah gamis (baju kurung panjang, sejenis jubah) yaitu baju yang bisa menutup seluruh tubuh dan juga mencakup kerudung serta kain yang melapisi di luar baju seperti halnya kain selimut atau mantel (lihat Mu’jamul Wasith, juz 1, hal. 128, Al Munawwir, cet ke-14 hal.199)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Yang dimaksud jilbab adalah pakaian yang berada di luar lapisan baju yaitu berupa kain semacam selimut, kerudung, selendang dan semacamnya.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 272)

Ibnu Katsir menjelaskan: “Jilbab adalah selendang yang dipakai di luar kerudung. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Mas’ud, Abu ‘Ubaidah (di dlm Maktabah Syamilah tertulis ‘Ubaidah, saya kira ini adalah kekeliruan, -pent), Qatadah, Hasan Al Bashri, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An-Nakha’i, Atha’ Al Khurasani dan para ulama yang lain. Jilbab itu berfungsi sebagaimana pakaian yang biasa dikenakan pada masa kini (di masa beliau, pent). Sedangkan Al Jauhari berpendapat bahwa jilbab adalah kain sejenis selimut.” (Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah)

Para ulama mempersyaratkan busana muslimah berdasarkan penelitian dalil Al-Qur’an dan Al-hadits sebagai berikut:

Harus menutupi seluruh tubuh, hanya saja ada perbedaan pendapat dlm hal menutup wajah dan kedua telapak tangan. Dalilnya adalah QS. An-Nuur : 31 serta QS. Al-Ahzab : 59. Sebagian ulama memfatwakan bahwa diperbolehkan membuka wajah dan  kedua telapak tangan, hanya saja menutupnya adalah sunnah dan  bukan sesuatu yang wajib.

Pakaian itu pada hakikatnya bukan dirancang sebagai perhiasan. Dalilnya adalah ayat yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang bisa tampak.” (QS. An-Nuur : 31)

Sebagian perempuan yang komitmen terhadap syari’at mengira bahwa semua jilbab selain warna hitam adalah perhiasan. Penilaian itu adalah salah karena di masa Nabi sebagian sahabiyah pernah memakai jilbab dengan warna selain hitam dan beliau tak menyalahkan mereka. Yang dimaksud dengan pakaian perhiasan adalah yang memiliki berbagai macam corak warna atau terdapat unsur dari bahan emas, perak dan semacamnya. Meskipun begitu penulis Fiqhu Sunnah li Nisaa’ berpendapat bahwa mengenakan jilbab yang berwarna hitam itu memang lebih utama karena itu merupakan kebiasaan para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pakaian itu harus tebal, tak boleh tipis supaya tak menggambarkan apa yang ada di baliknya. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan dua golongan penghuni neraka yang salah satunya adalah para perempuan yang berpakaian tapi telanjang (sebagiamana tercantum dlm Shahih Muslim)

Maksud dari hadits itu adalah para perempuan yang mengenakan pakaian yang tipis sehingga justru dapat menggambarkan lekuk tubuh dan tak menutupinya. Walaupun mereka masih disebut orang yang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka itu telanjang.

Harus longgar, tak boleh sempit atau ketat karena akan menampakkan bentuk atau sebagian dari bagian tubuhnya. Dalilnya adalah hadits Usamah bin Zaid yang menceritakan bahwa pada suatu saat beliau mendapat hadiah baju yang tebal dari Nabi. Kemudian dia memberikan baju tebal itu kepada isterinya. Namun karena baju itu agak sempit maka Nabi menyuruh Usamah agar isteri  Usamah mengenakan pelapis di luarnya (HR. Ahmad, memiliki penguat dalam riwayat Abu Dawud)          

Oleh sebab itu hendaknya para perempuan masa kini yang gemar memakai busana ketat segera bertaubat.

Tidak boleh menyerupai pakaian kaum lelaki. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum laki-laki yang sengaja menyerupai kaum perempuan dan kaum perempuan yang sengaja menyerupai kaum laki-laki.” (HR. Bukhari )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad sahih)


Allah ta’ala berfirman,

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللاتِي لا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tak (bermaksud) Menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nuur: 60)

Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah berkata: “Yang dimaksud dgn Al-Qawa’id adalah perempuan-perempuan tua, maka kandungan ayat ini menunjukkan bolehnya perempuan tua yang sudah tak punya hasrat menikah utk melepaskan pakaian mereka.”

Imam Asy-Syaukani mengatakan: “Yang dimaksud dgn perempuan yang duduk (Al-Qawa’id) adalah kaum perempuan yang sudah terhenti dari melahirkan (menopause).

Akan tetapi pengertian ini tak sepenuhnya tepat. Karena terkadang ada perempuan yang sudah terhenti dari melahirkan sementara pada dirinya masih cukup menyimpan daya tarik.Sesungguhnya mereka (perempuan tua) itu diizinkan melepasnya karena kebanyakan lelaki sudah tak lagi menaruh perhatian kepada mereka.

Sehingga hal itu menyebabkan kaum lelaki tak lagi berhasrat utk mengawini mereka maka faktor inilah yang mendorong Allah Yang Maha Suci membolehkan bagi mereka (perempuan tua).

Syaikh Abu Bakar Al-Jaza’iri berkata: “Al-Qawa’idu minan nisaa’ artinya: kaum perempuan yang terhenti haidh & melahirkan karena usia mereka yang sudah lanjut.” (Aisarut Tafasir, Maktabah Syamilah)

Syaikh As-Sa’di berkata: “Al-Qawa’idu minan nisaa’ adalah para perempuan yang sudah tak menarik untuk dinikmati dan tak menggugah syahwat.” (Taisir Karimir Rahman, Makbatah Syamilah) Ibnu Katsir menukil penjelasan Sa’id bin Jubair, Muqatil bin Hayan, Qatadah dan Adh-Dhahaak bahwa makna Al-Qawa’idu minan Nisaa’ adalah: perempuan yang sudah terhenti haidnya dan tak bisa diharapkan melahirkan anak.”

Adapun yang dimaksud dgn pakaian yang boleh dilepas dlm ayat ini adalah kerudung, jubah, dan semacamnya (lihat Aisarut Tafasir, Maktabah Syamilah)

Meskipun demikian Allah menyatakan: “dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka.”         (QS. An-Nuur: 60) Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri menjelaskan: Artinya tak melepas pakaian tersebut (kerudung dan semacamnya) adalah lebih baik bagi mereka daripada mengambil keringanan.” (lihat Aisarut Tafasir, Maktabah Syamilah).

Hukum Mengenakan Cadar  Menurut Empat Mazhab

Madzhab Hanafi

Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

* Asy Syaranbalali berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو المختار

“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami“ (Matan Nuurul Iidhah)

* Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وقدميها في رواية ، وكذا صوتها، وليس بعورة على الأشبه ، وإنما يؤدي إلى الفتنة ، ولذا تمنع من كشف وجهها بين الرجال للفتنة

“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki”       (Ad Durr Al Muntaqa, 81)

* Al Allamah Al Hashkafi berkata:

والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب

“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan” (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189)

* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:

تُمنَعُ من الكشف لخوف أن يرى الرجال وجهها فتقع الفتنة ، لأنه مع الكشف قد يقع النظر إليها بشهوة

“Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat” (Hasyiah ‘Alad Durr Al Mukhtaar, 3/188-189)

* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:

قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف وجهها بين الرجال في زماننا للفتنة

“Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah”       (Al Bahr Ar Raaiq, 284)

Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?

Madzhab Maliki

Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

* Az Zarqaani berkata:

وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني

“Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani” (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)

* Ibnul Arabi berkata:

والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ، أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها

“Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)” (Ahkaamul Qur’an, 3/1579)

* Al Qurthubi berkata:

قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها

“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)

* Al Hathab berkata:

واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب عليها ستر الوجه والكفين . قاله القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح

“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat” (Mawahib Jaliil, 499)

* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:

وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض . وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب

“Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab Ightimamul Furshah, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah merinci, jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka sunnah” (Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176)

Madzhab Syafi’i

Pendapat madzhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.

* Asy Syarwani berkata:

إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ

“Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

* Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن

“Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)

* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:

وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها

“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19)

* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:

فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا

“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)

* Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:

ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب

“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (Kifaayatul Akhyaar, 181)

Madzhab Hambali

* Imam Ahmad bin Hambal berkata:

كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة حتى الظفر

“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam Zaadul Masiir, 6/31)

* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis Raudhul Murbi’, berkata:

« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ، صرح به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة حتى وجهها بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى الركبة

“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah… kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (Raudhul Murbi’, 140)

* Ibnu Muflih berkata:

« قال أحمد : ولا تبدي زينتها إلا لمن في الآية ونقل أبو طالب :ظفرها عورة ، فإذا خرجت فلا تبين شيئًا ، ولا خُفَّها ، فإنه يصف القدم ، وأحبُّ إليَّ أن تجعل لكـمّها زرًا عند يدها

“Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan khuf (semacam kaus kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan’” (Al Furu’, 601-602)

* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan Al Iqna’ , ia berkata:

« وهما » أي : الكفان . « والوجه » من الحرة البالغة « عورة خارجها » أي الصلاة « باعتبار النظر كبقية بدنها »

“’Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya” (Kasyful Qanaa’, 309)


Cadar Adalah Budaya Islam

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai cadar dan juga jilbab bukanlah sekedar budaya timur-tengah, namun budaya Islam dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat timur-tengah saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat timur-tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang demikian sepatutnya, seorang muslim berbudaya Islam.

Diantara bukti lain bahwa cadar (dan juga jilbab) adalah budaya Islam :

Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan tabarruj. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33)
Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah Shallalahu’alihi Wasallam belum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.

Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka.  ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata:

مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

“(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. Al Ahzab An Nuur: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari 4759)
Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.

Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.

Pada dasarnya Islam tidak menentukan model pakaian tertenu bagi perempuan. Sepanjang pakaian tersebut bisa menutupi aurat dan bisa menghindari fitnah maka tidak ada persoalan. Para ulama hanya memberikan syarat-syarat tertentu bagi pakaian perempuan. Ringkasanya, disyaratkan pakaian yang tidak menunjukkan auratnya, tidak tembus pandang, tidak menggambarkan lekuk tubuhnya, dan tidak menarik perhatian. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Syeikh Ahmad Mutawwali asy-Sya’rawi:

ُوَشُرِطَ فِي لِبَاسِ الْمَرْأَةِ الشَّرْعِيِّ أَلاَّ يَكُونَ كَاشِفاً، وَلَا وَاصِفاً، ولا مُلْفِتاً لِلنَّظَرِ

“Disyaratkan dalam pakaian perempuan yang syar’i, pakaian tersebut tidak memperlihatkan uaratnya, tidak menggambarkan lekuk tubuh, dan tidak menarik perhatian” (Syekh Ahmad Mutawwali asy-Sya’rawi, Tafsir asy-Sya’rawi, Mesir-Mathabi’u Akhbar al-Yaum, 1997, juz, 19, h. 12168).

Dengan demikian sepanjang rok dan baju tersebut memenuhi syarat-syarat di atas maka tidak ada persoalan. Sedang mengenai jilbab diartikan dengan hanya baju terusan atau gamis, kami menghargai pandangan tersebut. Sebab, faktanya para ulama berbeda pendapat mengenai makna jilbab. Namun menurut Imam Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, bahwa makna jilbab yang benar adalah sebagai berikut:

اَلْجِلْبَابُ بِكَسْر الْجِيمِ هُوَ الْمُلَاءَةُ الَّتِي تَلْتَحِفُ بهَا الْمَرْأَة فَوق ثِيَابهَا هَذَا هُوَ الصَّحِيح فِي مَعْنَاهُ

“Kata jilbab—dengan diberi harakat kasrah pada huruf jim—adalah mula`ah (kain panjang yang tidak berjahit) yang digunakan perempuan untuk berselimut (menutupi) di atas baju yang kenakannya. Ini adalah makna jilbab yang benar. (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Tahriru Alfazh at-Tanbih, Damaskus-Dar al-Qalam, cet ke-1, 1408 H, h. 57)

Dari makna jilbab yang dikemukakan di atas, maka jilbab bisa diartikan dengan kain yang lebar yang dikenakan perempuan untuk melapisi pakaian yang sudah dikenakannya. demikian yang dapat kami berikan mudah -mudahan bermanfaat apa bila ada kesalahan dalam penulisan huruf  arab mohon maaf dan terimakasi atas kunjungannya.