Rabu, 20 Juni 2012

Kisah indah Ibnu Hajar dengan Seorang Yahudi

Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar Mesir di masanya. Beliau jika pergi ke tempat kerjanya berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau keledai-keledai dalam sebuah arak-arakan.

Pada suatu hari beliau dengan keretanya melewati seorang yahudi Mesir. Si yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, si yahudi itu menghadang dan menghentikannya.

Si yahudi itu berkata kepada Ibnu Hajar:
“Sesungguhnya Nabi kalian berkata:
” Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir. ” (HR. Muslim)
Namun kenapa engkau sebagai seorang beriman menjadi seorang hakim besar di
Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini. Sedang aku -yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini.”

Maka Ibnu Hajar menjawab: “Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenimatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan yang adzab neraka itu seperti sebuah surga.”

Maka si yahudi itupun kemudian langsung mengucapkan syahadat: “Asyhadu anlailaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah,” tanpa berpikir panjang langsung masuk Islam.
Subhanallah, sangat menakjubkan hadits Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam kisah ini…

Bahan Renungan:
Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini: “Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.”

“Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari
kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia
dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.

Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.”(Syarah Shohih Muslim No. 5256)

Maka sepantasnya seorang mukmin bersabar atas hukum Allah dan ridha dengan yang ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Semoga kita diberi taufik, kemudahan, dan al-afiat untuk menjalani kehidupan dunia ini. Amien ya rabb

Sumber: Syarh Shohih Muslim

Dia Jujur Kepada Allah Maka Allah Memenuhi Keinginannya


Diriwayatkan dari Syidad bin al-Had radhiallahu ‘anhu bahwasanya seorang lelaki dari Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam –kemudian beriman kepadanya dan mengikuti ajarannya– lalu orang itu berkata kepada Nabi, "Aku berhijrah untuk mengikuti ajaranmu." Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada para sahabat tentang orang tersebut.

Setelah kembali dari suatu peperangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperoleh harta rampasan perang. Rampasan tersebut dibagi-bagi untuk nabi dan para sahabat. Orang Badui tersebut juga mendapat bagian. Tetapi ia tidak kelihatan. Ketika suatu hari ia berada di tengah-tengah sahabat. Para sahabat memberikan jatah tersebut kepadanya.

Ia bertanya, "Apa ini?"

Para sahabat menjawab, "Bagian (jatah) mu yang telah disisihkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam." Ia mengambil jatah tersebut lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya, "Apakah ini?" Beliau menjawab, "Aku telah menyisihkannya untukmu."

Dia berkata, "Aku mengikutimu bukan untuk memperoleh seperti ini, tetapi agar aku terkena anak panah di sini -sambil mengisyaratkan ke lehernya- sehingga aku menemui ajalku dan masuk Surga."

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Jika Engkau jujur kepada Allah, niscaya Allah percaya dan akan menyampaikan keinginanmu."

Ia terdiam sejenak, kemudian bangkit untuk ikut serta memerangi musuh. Setelah itu datang seseorang menggotongnya sambil membawa pedang, dia terluka pada bagian sebagaimana yang ia isyaratkan, lehernya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, "Apakah ini orang Badui yang itu?" Para sahabat menjawab, "Benar."

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, "Ia jujur kepada Allah maka Allah memenuhi permintaannya."

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkafaninya dengan baju jubah beliau, kemudian menshalatkannya. Di antara doa yang dipanjatkan Nabi untuknya adalah, "Ya Allah, ini adalah hambaMu, keluar dari kabilahnya untuk berhijrah menuju jalanMu, kemudian mati syahid karena terbunuh, dan aku menjadi saksi atas yang demikian itu."( Shahih Sunan an-Nasa’i, hal. 420.)

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih

ABU UQAIL (Meninggal Dengan Jari Menunjuk Ke Langit)



Dari Ja’far bin Abdillah bin Aslam berkata, "Tatkala peperangan Yamamah berlangsung dan kaum muslimin berada di tengah medan perang, orang yang pertama kali mendapat luka adalah Abu Uqail. Dia terkena panah pada bagian antara kedua bahu dan dadanya namun tidak meninggal dunia. Kemudian panah itu dicabut sehingga pada siang hari tangan kirinya terasa lemah. Kemudian ia dibawa ke dalam kemah.

Ketika peperangan semakin memanas, umat Islam tampak mengalami kekalahan serta mulai melewati batas yang diten-tukan, sementara itu Abu Uqail dalam kondisi lemah karena luka, tiba-tiba ia mendengar Ma’n bin Addy menyeru, 'Wahai kaum Anshar, mohonlah pertolongan kepada Allah, mohonlah pertolongan kepada Allah, seranglah musuhmu!'

Ibnu Umar berkata, "Setelah mendengar seruan itu Abu Uqail berdiri untuk menemui kaumnya. Maka aku bertanya, 'Apa yang kamu inginkan? Kamu tidak wajib menyerang!'

Abu Uqail menjawab, 'Tadi ada seseorang memanggil namaku.'

Aku katakan kepadanya, 'Orang yang memanggil itu mengatakan, 'Wahai orang-orang Anshar, bukan memanggil wahai orang-orang yang terluka!'

Abu Uqail berkata, 'Aku termasuk salah satu orang Anshar, oleh karena itu aku harus menyambut seruannya sekalipun dengan merangkak.'

Kemudian Abu Uqail memakai ikat sabuknya dan mengambil pedang dengan tangan kanannya seraya menyeru, 'Wahai kaum Anshar, seranglah musuh sebagaimana dalam perang Hunain! Bersatulah kamu sekalian semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu. Majulah ke medan perang sebab kaum muslimin itu bersembunyi sekedar memperdayakan musuh, giringlah musuhmu sehingga masuk ke dalam kebun kemudian kamu membaur dengan mereka dan pedang-pedang kalian memenggal mereka.'

Aku perhatikan bagian-bagian tubuh Abu Uqail ternyata tangannya yang terluka telah lepas dari bahunya dan jatuh di medan peperangan. Pada tubuhnya terdapat 14 luka yang menyebabkan ia meninggal dunia. Saat itu musuh Allah, Musailamah telah terbunuh.

Aku berada di sisi Abu Uqail ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir. Aku memanggil namanya, 'Wahai Abu Uqail! Dia menjawab, 'Labbaik -dengan terbata-bata- siapa yang kalah?' Aku menjawab, 'Bergembiralah, musuh Allah telah terbunuh.' Kemudian ia menunjuk ke langit dengan jarinya sambil memuji Allah lalu meninggal dunia. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya." (Masyari’ul Asywaq Ila Mashari’il ‘Isyaq, 1/509.)

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih

ABDULLAH BIN HUDZAFAH Dan Siksaan yang Sangat Pedih



Dia menjadi tawanan bangsa Romawi, dimasukkan ke dalam penjara oleh penguasa yang kejam. Di dalam penjara disediakan minuman yang dicampur arak dan daging babi panggang, untuk dimakan saat lapar dan minum khamar, ketiga macam suguhan itu sama sekali tidak disentuhnya.

Lalu ia dikeluarkan dari penjara saat mereka mengkhawatirkan kematiannya. Dia berkata pada dirinya, "Demi Allah, sesungguhnya ini semua telah menjadi halal bagiku karena aku dalam kondisi terpaksa, hanya saja aku tidak ingin berbahagia di atas bencana yang menimpa kalian dengan sebab berpegang teguh pada Islam."

Abu Rafi’ berkata, "Umar mengirim pasukan tentara ke Romawi. Kemudian musuh menangkap Abdullah bin Hudzafah sebagai tawanan perang, lalu dihadapkan kepada raja, mereka berkata, 'Orang ini termasuk sahabat dekat Muhammad.'

Raja bertanya, 'Maukah kamu masuk agama Nasrani dengan imbalan setengah kekuasaanku aku berikan kepadamu?'

Abdullah bin Hudzafah menjawab, 'Sekiranya engkau berikan seluruh kekuasaanmu kepadaku, dan seluruh yang dimiliki bangsa Arab, aku tidak akan pernah meninggalkan agama Muhammad sekejap mata pun.'

Raja berkata, 'Jika demikian berarti kamu mesti dihukum mati!'

Abdullah menjawab, 'Terserah kamu!'

Kemudian diperintahkan agar dilaksanakan hukuman mati atasnya, ia diletakkan dalam tiang salib. Raja berkata, 'Bidiklah ia dari dekat!'

Raja berkata demikian sambil menawarkan agama Nasrani kepadanya, namun ia tetap menolak. Lalu ia diturunkan dari tiang salib.

Raja kemudian meminta supaya ajudan merebus air hingga mendidih dan memanggil dua orang tawanan muslim. Salah satu dari mereka dilemparkan ke dalam periuk itu, kemudian raja menawarkan kepada Abdullah untuk pindah agama. Ia tetap menolak tawaran tersebut. Kemudian Abdullah menangis.

Karena tangisan ini, ada seseorang yang menyampaikan kepada raja bahwa Abdullah menangis. Maka Raja pun mengira bahwa Abdullah telah berputus asa.

Raja berkata, 'Bawalah kemari!'

Raja bertanya, 'Apa yang menyebabkan kamu menangis?'

Abdullah menjawab, 'Karena aku hanya mempunyai satu nyawa yang apabila dilemparkan ke dalam periuk itu maka langsung akan musnah. Aku membayangkan, alangkah bahagia sekiranya aku mempunyai nyawa sebanyak jumlah rambutku yang merasakan siksaan seperti itu dalam rangka mempertahankan agama Allah.'

Raja berkata, 'Apakah kamu bersedia mencium kepalaku, agar kamu bebas?'

Abdullah menjawab, 'Bersama seluruh tawanan Muslim?'

Raja menjawab, 'Ya.'

Maka Abdullah mencium kepala raja.

Selanjutnya para tawanan Muslim yang telah bebas itu menghadap Umar dan menceritakan semua yang terjadi.

Umar berkata, 'Adalah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mencium kepala Ibnu Hudzafah, dan akulah orang yang pertama yang akan memulainya.' Lalu Umar mencium kepala Abdullah." (Usudul Ghabah, 3/212.)

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih

ALI BIN ASAD, Bagaikan Asad (Seekor Singa)




Diriwayatkan oleh Musa bin Abu Ishaq al-Anshari bahwa Ali bin Asad ikut serta dalam sebuah peperangan, ia sempat membuat tragedi besar. Suatu malam ia melintas di Kufah. Tiba-tiba di keheningan malam itu ia dapati seseorang membaca Surat az-Zumar 53: “Katakanlah hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah”.

Ali kemudian berkata, "Ulangi bacaanmu!" Seketika itu ia mengulanginya. Ali berkata lagi, "Ulangi bacaanmu," ia pun mengulangi bacaannya. Pada kali ketiga Ali berkata, "Ulangi," ia pun mengulangi bacaan tersebut.

Lalu Ali pergi mandi, mencuci pakaian kemudian beribadah sehingga matanya kabur/bengkak saking banyaknya menangis. Sedang lututnya seperti lutut seekor unta. Tidak lama kemudian ia mengarungi lautan dan ikut serta dalam peperangan melawan Romawi. Tiba-tiba perahunya berpapasan dengan perahu musuh. Ketika itu Ali berkata, "Setelah hari ini aku tidak akan berjuang mencari Surga."

Ali segera meloncat ke dalam perahu yang ditumpangi musuh sambil menyerang mereka. Merekapun segera menyambutnya dan mengeroyoknya bersama-sama hingga perahu mereka miring ke salah satu sisi. Setelah itu perahunya oleng dan Ali tenggelam dalam pakaian besinya." (Masyari’ul Asywaq, 1/554.)


BUSR BIN ARTHAT (Tidak Pernah Ada Wanita Melahirkan Lelaki Sehebat Dia)



Al-Ala’ bin Sufyan al-Hadrami berkata, "Ibnu Arthath menyerang tentara Romawi. Setiap kali terjadi penyerangan selalu saja betisnya terkena tusukan senjata musuh. Sampai-sampai dia menyembunyikan betisnya tetapi masih tetap terkena senjata musuh juga.

Suatu hari ia memisahkan diri dari pasukan yang berjumlah 100 orang di sebuah lembah Romawi. Tiba-tiba ia menemukan sejumlah baradzin –nama hewan sejenis kuda– yang berjumlah 30 ekor semuanya terikat, sedang di dekatnya terdapat sebuah gereja, di dalam gereja itu terdapat para penunggang hewan tersebut.yang ternyata mereka inilah yang selalu melepaskan panahnya mengenai betis Ibnu Arthath. Kemudian Ibnu Arthath turun dari kuda dan menambatkannya. Kemudian masuk ke dalam gereja dan menutup pintunya serta menyandera seluruh tentara yang di dalam gereja. Tentara Romawi heran mengapa pintu gereja ditutup. Lalu mereka pun melepaskan senjatanya sehingga tiga orang dari pasukan mereka tewas.

Kawan-kawan Ibnu Arthath kehilangan dirinya, mereka mencari keberadaan Ibnu Arthath, lalu mereka menemukan kudanya, dan mendengar suara gaduh di dalam gereja. Mereka masuk ke dalam gereja, namun pintunya terkunci, lalu mereka loncat dari atas atap, mereka mendapati Ibnu Arthath memegangi ususnya yang terburai dari perutnya, sementara tangan kanannya memegang pedang

Setelah kawan-kawan Busr menguasai gereja, Busr pingsan. Mereka membunuh dan menangkap tentara Romawi, mereka berkata, 'Kami bersumpah kepada Allah, siapa yang melakukan penyerangan ini?' Mereka menjawab, 'Busr bin Arthath.' Mereka berkomentar, 'Demi Allah tidak ada seorang wanita pun yang melahirkan pemuda sehebat dia.'

Kemudian mereka mengobati perut Busr dengan mengembalikan usus yang telah terburai tadi ke dalam perut, usus tersebut tidak ada yang terluka ataupun tercecer kemudian mereka mengikatnya dengan sorban, menggotong lalu menjahit perutnya. Busr pun kembali sehat wal afiat." (Masyari'ul Asywaq, 1/541.)

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih

BISYR AL-HAFI (Aku Hanyalah Seorang Budak)




Dahulu, ketika Bisyr masih senang berfoya-foya di rumahnya, ia memiliki banyak sahabat yang mempunyai kebiasaan minum dan jor-joran.

Suatu hari, ada seorang shalih lewat di depan rumahnya lalu mengetuk pintu. Kemudian seorang budak perempuan keluar rumah untuk menemuinya.

Orang shalih itu bertanya, "Yang punya rumah ini orang merdeka atau budak."
Budak perempuan menjawab, "Orang merdeka."

Orang shalih berkata, "Benar jawabanmu, sekiranya pemilik rumah ini seorang budak, tentulah ia berperangai sebagaimana budak dan tidak berfoya-foya seperti ini."



Ternyata Bisyr (pemilik rumah) mendengar pembicaraan mereka berdua ini. Maka ia segera lari menuju pintu tanpa mengenakan sandal, namun orang shalih tersebut telah pergi.

Bisyr lalu berkata kepada budak perempuannya, "Celaka kamu, siapa yang mengajakmu bicara di depan pintu tadi?"

Kemudian sang budak menceritakan kejadian tersebut.

Bisyr bertanya, "Terus laki-laki tadi kemana?"
Budak menjawab, "Ke sana!"

Bisyr pun mengikuti kemana laki-laki itu menuju. Setelah dapat menyusul, Bisyr bertanya, "Wahai tuan, andakah tadi yang berhenti di depan pintu rumahku dan berbicara dengan budak perempuanku?"
Orang shalih menjawab, "Ya."

Bisyr berkata, "Tolong ulangi percakapan anda dengan budakku tadi!"
Orang shalih itu pun mengulangi pembicaraannya.

Seketika itu Bisyr pun menempelkan pipinya ke tanah, sambil berkata, "Wahai tuan, pemilik rumah itu seorang budak." Setelah itu ia senantiasa berjalan tanpa sandal hingga ia dikenal dengan sebutan hufa’, orang tak bersandal.

Banyak orang bertanya kepada Bisyr, "Mengapa kamu selalu tidak memakai sandal?"

Bisyr menjawab, "Karena Tuhanku tidak berkenan mene-muiku kecuali saat aku tidak mengenakan alas kaki. Aku akan terus bersikap demikian ini sehingga ajal menjemputku'."